Tampilkan postingan dengan label Cuap-cuap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cuap-cuap. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2014

Empat Golongan Mahasiswa

Mahasiswa itu ada empat macam, yaitu mahasiswa yg pinter dan keliatan pinter, mahasiswa yang bego tapi sok pinter, mahasiswa pinter tapi sok bego, dan mahasiswa yang benar2 bego.

1. Mahasiswa pinter dan keliatan pinter
Ini mahasiswa yg study oriented. Biasanya cenderung kupu2. Suka pelit kalo dimintain contekan.

2. Mahasiswa bego tapi sok pinter
Ini golongan pembicara. Omongannya WAW tapi pas tes diatas kertas biasanya langsung kena ayan. Kalo mo nyontek diawali dengan, "Aq sebenernya udah, tapi mau mastiin jawabanku aja."
Cenderung nyebelin dan sombong.

3. Mahasiswa pinter tapi sok bego
Golongan antara ada dan tiada. Kehadirannya kadang dilupakan. Biasanya golongan ini 'ketauan' pinternya pada saat nilai hasil ulangan sekelas ditempel di mading, dan teman2 nya bilang "Ternyata dia pinter. Btw, anaknya yang mana ya?"
Suka ngajarin dan nyontekin.

4. Mahasiswa yang bener2 bego
Dia sadar dia bego, dan dia usaha nyari2 contekan. Golongan ini biasanya disukain temen2 karena tidak muna dan selalu punya stok contekan yang lengkap. Orang2 ini sebenernya pinter, cuma biasanya males buat belajar. Yg masuk golongan ini anak2 yang aktif di bidang seni.

Sudah dibaca? Hehe.. kira-kira pribadi ane masuk golongan apa ya? LOL

#isengdoang #abaikan

Boleh Nggak Aku Ngebunuh Orang Yang Minder?

"Aku tuh beda sama kamu. Kamu tuh serba bisa, aktif, pede. Gak kyk aq yg minder dan gk bisa apa-apa.."

Sumpah aq benar2 benci sama orang yang bicara seperti itu ke aq. Trus kalo kamu minder n gk bisa apa2, SO WHAT??!

Kalo aq serba bisa, aktif, pede SO WHAT??! Emangnya kalian pikir aq gk pernah minder, gak pernah depresi karna gk bisa apa-apa? Kalian salah!

Aq pernah benar2 depresi gara-gara gak bisa nyanyi, dikeluarin dari tim padus sekolah.. Gagal tes masuk SMP negeri, gak punya temen satu pun di klub, di ejek pendek gendut item jerawatan. Aq pernah depresi, sampe rasanya mau mati..

Aq tau banget kekurangan q yg minder ini, yaitu gk punya keahlian apa-apa. Aq gak cantik n aq gk pinter. Wajar aja aq minder.. Tapi aq santai aja tuh. Ditengah kesuraman hidup aq mencari pelarian. Aku mati-matian belajar gitar, latian nyanyi pagi siang malam, mati-matian ngebersihin muka. Ikut karate dan klub senam biar kurus. Tiap hari pake sunblock biar gak dikatain item lagi.

Aku gak bisa apa-apa, tapi aku bisa maksa diriku buat bisa apa-apa yang aku ingin bisa.

Aq gak pinter? Ya belajar dong.

Aq gak pede? Ya paksain diri buat pede dong.

Gak kuat denger komentar orang tentang kejelekanku? Ya anggap aja semua itu hanya pujian.

Aku berhasil ngelewatin semua itu, dan aku bahagia pernah mengalami masa-masa suram itu.

Dan kalo saat ini aq masih ngedenger, 'Aq beda sama kamu, kamu bla.. blaa.. blaa..' benar2 pengen aku tonjok tuh orang.

Kalo emang lu gk suka dgn keadaan yg sekarang, ya diubah dong! Jgn cuma pasrah terus nyalahin org lain gara-gara diri yg gak bisa apa-apa.

Keminderan seseorang bukan cuma jadi masalah buat dirinya sendiri, tapi juga orang lain. Tidak mungkin semua pekerjaan hanya diserahkan begitu saja kepada orang lain hanya karna kamu gak bisa, lantas si minder gk ngerjain apa-apa.

Dunia gak akan berubah kalo gak diubah, dan dirimu juga gak akan berubah jika kamu tidak memutuskan untuk berubah. Tolong direnungkan, dilakukan, dan percaya dirilah.

(written with all anger and motivation on August 2013)

Cewek Jaman Sekarang (miris gan) : "Kuliah buat belajar? Kuliah itu buat cari suami kaya!!"

"Emang kamu pikir kuliah itu buat apa? Belajar? Nggak! Kuliah itu tempat cari suami kaya, biar kalo lulus gak susah2 kerja langsung nikah aja!"

Pernyataan frontal yg diucapkan seseorang kepada saya beberapa waktu yg lalu benar2 sukses membuat saya ngakak sekaligus syok. Entah ia melontarkannya dgn hati ataupun hanya candaan, tidak dipungkiri bahwa pernyataan tersebut banyak diamini oleh mahasiswa perempuan.

Seperti kata teman saya, "Bullshit kalo cowok gak suka cewek cantik, se-bullshit cewek yg bilang gak matre."

Matrealistis atau biasa disebut matre, adalah perilaku yg wajar dimiliki setiap orang. Semua orang ingin bahagia, dan semua berusaha untuk mendapatkan kebahagiaannya. Begitupun dengan mahasiswa. Mereka merasa telah membayar mahal untuk kuliah di suatu Universitas terkemuka, wajar bagi mereka untuk mendapatkan bayaran yg setimpal, begitu kata teman saya.

Lebih lanjutnya saya coba hubungkan dari pernyataan teman saya yg lain (cowok),

"Lu kuliah di kedokteran pacaran ma cewek culun kek gitu? Lu dokter man! Buat apa kuliah jadi dokter kalo gak punya pacar cantik??"

Senada dengam pernyataan diatas, (cewek)
"Kamu kuliah lama, dandan ke salon cuma buat pacaran sama cowok miskin? Buat apa cantik kalo gak dapet suami dokter??"

Ironi memang.. Saat kebahagiaan diidentikkan dengan Harta Tahta dan Wanita, ketulusan tidak lagi mudah didapat. Menuntut ilmu bukanlah menjadi prioritas saat kuliah diperguruan tinggi. Prioritas baru yg muncul yaitu mendapatkan istri cantik dengan kekayaan, atau mendapat suami kaya dgn kecantikan.

Semua orang bisa saja protes dan marah dengan perilaku matrealistis tersebut, berteriak2 tidak setuju, tapi inilah kenyataan yang ada. Mereka yang matre tidak bersalah. Ini hanya usaha mereka untuk mencapai kebahagiaan.
.
.
.
.
.
Sampai saat ini saya tidak terlalu memikirkan 'Penjaringan Suami Kaya Saat Kuliah'. Saya bahkan tidak melihat pentingnya punya pacar saat kuliah. Jika saya ingin, saya bisa saja pacaran dgn 5 mahasiswa kaya dari fakultas berbeda. Tapi buat apa? Apa saya kuliah hanya untuk itu?

Saya datang kuliah ke Malang untuk belajar, maka saya fokus belajar. Kalau memang saya menemukan jodoh saya saat kuliah, anggap saja bonus yg diberikan Tuhan dalam usaha saya menuntut ilmu.

Tidak usah terlalu menggebu-gebu mencari pacar. Tidak usah terlalu banting harga. Perbaiki saja kualitas diri kalo memang mencari jodoh yg berkualitas. Kalau memang jodoh, pasti Tuhan akan pertemukan.

Insyaallah :-)

Media Massa : Provokasi Opini, Kampanye Politik, dan Kemirisan Yang Diwajarkan

"Media massa dibuat untuk menggiring opini publik."

Memang benar, saat ini opini pembaca digiring untuk mengikuti opini pembuat beritanya. Atau bisa dibilang 'Provokasi Opini'.

Padahal, sebuah berita yang aktual itu seharusnya netral, tidak memihak, dan tidak memunculkan satu opini yg dominan. Bisa kita lihat ada satu media massa yg pro pemerintah maka semua beritanya membagus2 kan pemerintah, tapi menutupi kekurangannya. Begitu pula yang kontra, hanya akan menyampaikan sisi negatif tanpa memberitahu sisi positifnya.

Contoh nyatanya saja MetroTV dan TV One. Saya kadang muak melihat berita yg KETERLALUAN membagus2 kan pemilik siaran TV tersebut. Baik itu Surya Paloh, maupun Abu Rizal Bakrie.

Sangat menjijikkan rasanya saat kita, masyarakat yg haus informasi, harus mendengar kampanye politik terselubung setiap detik di tiap berita. Sangat menjijikkan. Berita tentang Golkar pun dibagus2kan, kehilangan berita ttg kasus korupsi yang ada.

Media cetak pun demikian. Entah itu koran ataupun berita internet (detik.com kompas.com dkk), dibuat untuk menggiring opini publik. Kata2 yang digunakan pun sengaja dipilih yang berefek mempengaruhi.

Kalau sudah begini, berita mana yang musti kita percayai? Tidak ada yang mengungkap kebenaran yg sebenarnya. Semua hanya satu pihak.

Daripada membaca berita 'palsu' dari koran atau web tertentu, saya lebih tertarik mengikuti forum politik. Setidaknya banyak opini yang tertera disana, dan saya tinggal menganalisis untuk membentuk opini saya. Disana kita bebas berargumen, juga bebas memperoleh informasi baru dari orang-orang yang lebih tahu.

Saya bukan orang yang ahli dibidang politik, juga bukan mahasiswa yang kuliah di FISIP.
Tulisan saya ini hanyalah cuap-cuap mahasiswa mengenai kondisi media massa Indonesia.
Saya cuma miris, dan ingin teman-teman sadar mengenai kemirisan ini.
Sempat ingin marah dan kesal,
hampir gila
lalu saya tersadar..


oh iya, ini Indonesia..
Memang seperti inilah Indonesia..